Kamis, 20 Juli 2017

Perihal Keselamatan Agama Di Luar Islam


Perihal Keselamatan Agama di Luar Islam

Sebagaimana ditunjukkan Al-Qur’an dan Hadits, Islam dapat dipahami dalam dua pengertian, yaitu semua agama tauhid yang dibawa para nabi dan rasul, dan nama bagi agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an menunjukkan kesatuan umat manusia, anak cucu Adam, yang menyembah Allah (QS. al-Anbiya’/21: 92) dan terikat penjanjian primordial untuk mengesakan-Nya (QS. al-A’râf/7: 172). Manusia kemudian terpecah-belah dan Allah mengutus para nabi dan rasul untuk menegakkan agama tauhid (QS. al-Baqarah/2: 213).
Ibrahim adalah tokoh penting yang diutus Allah untuk memulihkan monoteisme. Ajaran nabi sesudahnya, termasuk Ismail, Ishak, Yakub dan keturunannya, Musa, ‘Isa, dan Nabi Muhammad adalah kesinambungan dari monoteisme Ibrahim (QS. Ali Imran/3: 84; QS. an-Nisa’/4: 125). Agama itu disebut sebagai Islam, yang arti generiknya adalah pasrah dan tunduk kepada Allah. Pengikutnya, dari dulu hingga sekarang, disebut sebagai Muslim/Muslimin atau أمة مسلمة (QS. al-Hajj/22: 78; QS. Ali Imran/3: 85, 52; QS. Al-Baqarah/2: 128; QS. Yusuf/12: 101; QS. An-Naml/27: 31; QS. Yunus/10: 84). Hanya Islam agama di sisi Allah (QS. Ali Imran/3: 19). Siapa yang mencari selain Islam sebagai agamanya, niscaya tertolak (QS. Ali Imran/3: 85). Menimbang konteks dan pertaliannya, dua ayat terakhir berbicara tentang Islam dalam makna generik, yaitu agama tauhid.

Hadits sahih riwayat Bukhari-Muslim menegaskan kesatuan misi para nabi. Mereka semua adalah saudara seayah, berbeda-beda ibu, tetapi agamanya satu, yaitu agama tauhid atau Islam dalam pengertian asal:

الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ (متفق عليه)

Jumlah nabi dan rasul banyak sekali. Kisahnya sebagian diceritakan oleh Al-Qur’an, sebagian besar tidak (QS. an-Nisa’/4: 164). Menurut riwayat, jumlah nabi mencapai 124.000 orang, sementara Rasul hanya 315 (Jalâluddin as-Suyûthi, Ad-Durrul Mantsûr fit Tafsîr al-Ma’tsûr. Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyah, 2000, h. 104-105). Nabi Muhammad menjelaskan kesinambungan ajaran para nabi. Perumpamaannya seperti rumah yang dibangun, yang terus disempurnakan dan diperindah, kecuali fondasinya yang tidak berubah. Menurut Nabi, agama yang dibawanya, Islam, adalah fondasi itu sendiri:

عن أَبي هريرةَ  رضي اللّه عنه أنّ رسول الَّه صلّى اللَّه عليه وسلّمَ قال إن مثلي ومثل الأنبياء من قبلي كمثل رجل بنى بيتاً فأحسنه وأجمله إلا موضع لبنة من زاوية فجعل الناس يطوفون به ويعجبون له ويقولون : هلا وضعت هذه اللبنة ؟ قال : فأنا اللبنة وأنا خاتم النبيين (رواه البخاري)


Islam dalam pengertian kedua adalah nama agama yang dibawa Nabi dan Rasul pamungkas, yaitu Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an menyebut Islam sebagai agama sempurna yang dibawa Nabi Muhammad (QS. al-Maidah/05: 3). Islam bukan hanya telah disempurnakan doktrin-doktrin pokoknya (meliputi أصول العقيدة dan أصول الشريعة), tetapi agama yang menyempurnakan ajaran-ajaran Nabi sebelumnya. Islam hadir untuk mengembalikan manusia ke jalan yang lurus (الصراط المستقيم), jalan yang dilalui para Nabi, Rasul, dan orang-orang saleh. Dalam perjalanannya, jalan itu belok dan menyimpang karena dikorupsi para pengikutnya.Begitu Islam hadir, sebagianjalan (syariat) itu diganti atau diluruskan, sebagian lain dipertahankan, diakomodasi, dan diserap sebagai syariat Islam dengan sejumlah perubahan.  

Jalan Keselamatan

Muncul pertanyaan, apakah kehadiran Islam yang dibawa Nabi Muhammad membatalkan atau me-nasakh jalan keselamatan lain di luar Islam? Artinya, selain Islam yang dibawa Nabi Muhammad, tidak ada keselamatan. Begitu Islam hadir, jalan keselamatan lain yang ada seperti Yahudi dan Nasrani otomatis tertutup dan tidak absah. Mereka semua celaka dan tempatnya kekal di neraka. Benarkah demikian? 

Pertama, semua agama mengusung klaim keselamatan eksklusif, termasuk agama-agama samawi (Yahudi, Nasrani, dan Islam). Ketika Islam datang, Nabi bukan hanya ditolak oleh kaum pagan, tetapi juga oleh Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani). Mereka mengklaim agamanya yang paling benar dan pemeluk agamanya yang selamat.

Al-Qur’an (QS. al-Baqarah/2: 111) mencatat klaim Yahudi dan Nasrani yang mendaku paling berhak atas surga. Allah membantah klaim ini dan menegaskan siapa saja yang memasrahkan dirinya kepada Allah (أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ) dan berbuat kebajikan (وَهُوَ مُحْسِنٌ), baginya pahala di sisi Rabb-nya, tidak ada kekhawatiran, dan tidak pula bersedih hati (QS. al-Baqarah/2: 112). Di ayat lain, Allah menegaskan ganjaran itu tidak mengikuti angan-angan mereka (orang Islam dan Ahlul Kitab). Siapa saja yang berim